Go to Bandung With Khugy
Waktu terus berjalan
hingga setiap detiknya selalu terjadi perubahan. Seperti hari ini, waktu
kembali menyatukan kita untuk mengukir sebuah kenangan di kisah kita, Khugy.
Kurang lebih pukul 08.00 WIB kita berangkat dengan kendaraan umum. Roda empat
ini melaju melewati setiap tatanan jalan dan membawa kita pada satu tujuan
yaitu Bandung. Tidak mudah untuk kita melakukan perjalanan walau usia kita
sudah berkepala dua. Izin orang tua tak semudah untuk kita dapatkan, tetapi
tangan Allah selalu indah mengatur cerita persahabatan kita. Impian kita untuk
pergi ke Bandung bersama-sama ternyata terwujud dengan adanya ajakan dari dosen
kita tercinta.
Sehari setelah
sampainya kita di kota Bandung. Kita diajak untuk menelusuri UPI yang di mulai
dari taman, gedung pasca, dan perpustakaan. Namun, haruskah kita tertawa karena
kita tersesat di Bandung? Oh ayolah, mari kita nikmati walau kita terlantar di
trotoar. Kita tertawa, kita bahagia, dan jangan lupakan saat mulut kita ini
tanpa sengaja merutuki sopir angkot yang begitu menyeramkan. Baiklah, mari kita
akui bahwa ini terjadi karena kita tidak terbiasa pergi sendirian ke luar kota,
bukankah biasanya kita tinggal duduk di dalam mobil dan mengkuti langkah kaki
keluarga kita. Namun, sekali lagi. Ini juga kebahagiaan kita, apapun cerita
suka dan duka nikmatilah karena ini bagian dari kehidupan kita. Kita berjalan
beiringan untuk memasuki BEC, BIP, Hypermart, Gramedia, Matahari, Pasar Baru,
dan jangan lupakan saat kita ditipu dengan tidak segan-segan oleh sopir
menyeramkan itu. Namun, Allah selalu berada di samping kita. Di satu sisi kita
ditipu sopir angkot saat menuju, tetapi saat pulang kita dibantu oleh sopir
yang lainnya. Bukankah itu sebuah kenikmatan yang harus kita syukuri dalam
setiap langkah kaki kita?
Hari terakhir di kota
Bandung begitu mengharukan, seolah baru datang, kini kita harus pulang kembali.
Menunggu waktu pulang, kita mengisi waktu dengan bersih-bersih rumah (alm) Abah,
kita bermain lima dasar dan coret-coret muka seperti orang gila menggunakan
bedak tabur, jalan kaki untuk menemui dosen kita, dan berdebat kendaraan untuk
kita pulang. Terima kasih khugy, kalian mewujudkan salah satu impian masa
kecilku untuk naik kereta api. Sungguh, perjalanan kita kali ini begitu
membekas di hatiku. Khugy, aku menyayangi kalian, sangat. Ingatlah setiap tawa,
air mata, dan harapan yang kita simpan saat menikmati kota Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar