Stay
With You?
Sera
Sri Wulan
Cerita
kita memang tak seindah pelangi. Beranjak dari perbedaan dan masa lalu, kita
mencoba untuk tetap beriringan yang mengharapkan belas kasih Tuhan untuk
menuliskan atau mengaitkan benang takdir kehidupan. Tak pernah ada di benakku
bila akhirnya waktu mempertemukan dan memberikan cerita untuk kita. Dari awal,
kerikil itu sudah ada, tapi keyakinan dan harapan menghapuskan luka yang
sebenarnya semakin menganga saat sebuah pilihan itu ada, dan kau lebih
memilihnya. Begitu sangat ku sadari, dia adalah belahan jiwamu yang lain,
karena bagaimana pun sang waktu begitu lama menemani setiap cerita di antara
kalian. Terlintas untuk ku menyerah, tapi cinta ini, tak sedikit pun ingin
melepasmu. Aku tahu, kamu mencintaiku, tapi kenyataannya, kamu pun
menyayanginya, meski mulutmu mengatakan dia adalah sahabatmu. Tapi caramu
memperlakukanya, itu seakan menjelaskan sebuah rasa yang tanpa kamu sadari itu
menyakitiku.
Lalu???
Bagaimana denganku. Apa aku ada untuk menyadarkan perasaanmu padanya?? Kamu
hadir di kehidupan yang tak sepantasnya kamu memasuki area yang sebelumnya
belum terpikir olehku untuk mencintai seorang laki-laki. Kamu mengubahnya dan
memberikan warna tersendiri di hatiku, tapi kenapa terkadang warna abu kau
suguhkan untukku. Tak tahukah kau, aku hanya seorang wanita. Bukan aku tak
cemburu melihatmu slalu tertawa saat bersamanya, tapi aku enggan memperlihatkan
kelemahanku sebagai wanita. Bukankah kau tahu, aku tak pernah ingin
memperlihatkan kelemahanku walau pada nyatanya, terkadang aku rapuh di balik
kekuatanku.
Begitu
ingin aku mempercayai setiap ucapan dan perlakuanmu, tapi sekali lagi kenyataan
membuat logika untuk mengalahkan perasaanku. Sebenarnya kau mencintai dan
menginginkan siapa? Tak bisakah kau memilih salah satunya? Bila kau memilihku,
aku mohon, tataplah hanya aku dan ada lah untukku. Tapi bila kau memilihnya,
aku akan mencoba menerima dan mungkin itu yang terbaik daripada aku harus
mempertanyakan sebuah pertanyaan yang aku pun tak bisa menemukan jawabannya.
...
Aku
tengah duduk menikmati secangkir coklat hangat yang tersedia di cafe favoritku
dan dia. Sengaja, aku memilih tempat yang dekat dengan jendela, karena di sini,
aku bisa melihat orang berlalu lalang dan kendaraan yang seakan tak pernah
henti hilir mudik. Satu jam, aku menunggunya. Waktu terus berputar meninggalkan
setiap detik dan menit yang kulewati sendiri, kala aku menunggunya. Ini bukan
cerita pertama ataupun kedua, saat dia slalu telat menemuiku. Lelah? Ya, aku
lelah dengan semua perlakuan ini. Sampai kapan? Aku tetap menjadi orang yang
bersabar dan memberikan maaf dengan percuma. Kini secangkir coklat hangat itu
tlah dingin dan meninggalkan sisa-sisa uap di pinggirnya. Mataku menatap
jalanan yang sebenarnya aku pun tak tahu, apa yang tengah aku lihat. Hingga
sebuah tangan menyentuh bahuku dan aku hanya tersenyum di balik kesakitanku.
Baiklah, aku takkan marah atau pun bertanya kenapa dia telat. Karena bagiku,
jawaban itu hanya akan menambah rasa sesakku, jawaban yang menurut dia hal yang
sepele tapi inilah alasan atas adanya pertanyaanku.
“Nara,
kamu udah lama nunggu? Maaf ya, tadi aku menemani Diana seperti biasa. Wahh ...
kenapa coklatnya dingin?” tanyanya dengan kening yang berkerut. Ingin rasanya
aku mengatakan, ini semua ulahmu kenapa coklat itu telah berubah.
“Hem
dingin ya? Ah aku baru menyadarinya J” balasku dengan
dingin. Namun tetap kupaksakan sebuah senyuman untuk mencoba menetralkan
perasaanku.
“
Heyy, kenapa cara berbicaramu layaknya coklat dingin itu? Kamu kenapa Nara?
Kalau kamu ada masalah, kamu tahu kan, kemana tempat yang harus kamu tuju?”
Aku
enggan menjawabnya, karena apabila aku menjawabnya, hatiku akan semakin
terluka. Waktu, ku mohon bantu aku untuk menghentikan semuanya. Aku tak kuat
lagi, sungguh. Adakah satu tempat yang bebas untukku menangis, aku ingin
menangis, tapi aku tak ingin orang lain melihat atau mendengarnya. Hah kubuang
nafas kasar untuk menghilangkan gemuruh di dalam dada.
“Emm
bagaimana kabar Diana? Oh iya, tadi kalian pergi kemana saja?”
“Ahahahaha
dia akan slalu baik selama ada makanan dan psp. Tadi kami pergi ke toko buku
dan cd games terbaru. Karena itulah aku terlambat, aku main games dulu di
rumahnya. Ahhh, aku kalah olehnya, Nara. Bagaimana ini? Di simpan di mana gelar
pemenang yang melekat pada diriku. Meskipun dia wanita, tapi untuk games. Aku
acungi dua jempol deh untuk sahabatku itu. Ahahahahah”
Begitu
panjangnya dia bercerita tentang keseruan bersama sahabatnya. Kau tertawa, tapi
aku? Aku menangis dalam hatiku. Tapi ya, aku bukan wanita lemah.
“Oh
bermain games lagi. Padahal kamu tidak usah datang menemuiku, aku kan jadi
tidak enak. Ahh atau jangan-jangan kamu kalah karena dapat sms dari ku ya? Maaf
ya, aku tidak tahu.”
“Hey,
kenapa minta maaf. Bukankah semalam kita sudah janjian untuk bertemu sore ini.
Tapi tadi aku malah lupa karena asyik bermain. Oh iya, kenapa kau tidak
marah-marah lagi, setiap aku telat karena bermain games dengan Diana? Hehehe
tadi memang benar aku kalah karena kosentrasiku buyar oleh dering hpku. Diana
menitip salam untukmu dan bertanya kapan kamu akan main ke rumahnya?”
“Salam
balik aja dan katakan maaf, aku sudah jarang main ke rumahnya.”
“Hey
aku bertanya, kenapa kamu tidak pernah marah-marah lagi?”
“Untuk
apa aku marah, apa marah akan membuat semua berjalan dengan normal?”
...
Aku
tahu dia sahabatmu, bahkan mungkin sangat tahu. Bila saat bersamanya, terkadang
kau lupa akan keberadaanku. Kamu menyayanginya begitu pun sebaliknya. Apa aku
salah berada di antara kalian? Katakan apabila aku salah.
...
“Nara,
kamu tahu kebiasaan buruk Galang waktu kecil?”
Aku
hanya dapat menggelengkan kepala karena memang aku tidak tahu.
“
Ahahahaha dia masih suka mengompol sampai umur lima tahun. Hahahaha Galang
Galang.”
“
Ya, kau Diana! Apa kau tidak ingat, bahkan kebiasaan burukmu labih parah. Waktu
itu kau emmm mmm”
Diana
membekap mulut Galang dengan tangannya. Mereka terus bercerita tentang masa
kecil mereka sambil tertawa. Lalu, kalian anggap apa aku ini.
Hahahahahahha
...
Pilihan
yang lumayan membuatku berpikir keras, mana yang harus aku pilih. Meski hanya
sebulan, tapi tetap saja aku tidak mau meninggalkan Galang. Aku begitu teramat
mencintainya meski dengan luka yang semakin menganga di hatiku. Aku terus
berpikir dan berpikir, hingga ujung pemikiran itu membuatku mengambil keputusan
untuk ikut kak Dian ke Sukabumi membantu perusahaan paman yang tengah
dirintisnya. Sedikit terlintas, apa ini adalah waktu untukku memikirkan ulang
hubunganku dengan Galang. Lagi pula ini bisa jadi liburan yang tidak akan aku
lupakan. Bukankah sebentar lagi perkuliahan akan di mulai lagi. Baiklah sore
ini aku akan mengajak Galang bertemu dan meminta izin. Segera aku mengambil
benda persegi dan mengetik sms lalu mengirimkannya pada Galang.
Lang,
apa sore ini kamu bisa menemuiku di tempat biasa?
Send
Drrrt
drrrt drrt
Handphoneku
berdering, segera ku buka dan ternyata itu dari Galang.
Baiklah,
putri cantik. Selamat bertemu nanti sore. Aku merindukanmu J
aku
hanya dapat tersenyum membaca rentetan kata yang setidaknya membuatku
bersemangat untuk menemuinya.
...
Ya,
lihatlah! Galang tidak datang sendiri, tapi dia bersama Diana. Rasanya habis
sudah kesabaranku ini. Konsep awal, aku yang ingin bercerita tapi ternyata
semua di luar dugaanku. Diana malah begitu semangat menceritakan padaku tentang
laki-laki yang tengah dicintainya. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik
untuk mereka, aku juga mencoba untuk memahami kedekatan mereka.
Ehh
heyy kenapa Diana mendadak seperti ini, apa yang terjadi? Dia menceritakan
bahwa pacarnya cemburu atas kedekatannya dengan Galang. Bahkan lebih parahnya,
dia harus memilih antara Galang atau pacarnya. Dia menceritakan dengan terisak
dan bertanya padaku kenapa pacarnya tidak seperti aku yang dapat mengerti dan
tidak cemburu atas kedekatan mereka. Aku hanya dapat tersenyum, andai kalian
tahu sebenarnya. Sebenarnya kalian tidak salah, tapi ketidakpekaan kalian
terhadap pasanganlah yang membuat semunya salah dan adanya pihak yang
tersakiti. Aku hanya dapat mengatakan untuk bersikap sabar dan menyerahkan
kembali keputusannya pada Diana.
“Sudah
jangan menangis Diana, mungkin ini ujian untuk hubungan kalian. Selesaikan
masalah kalian dengan cepat. Apabila kamu mencintainya, kamu pilih dia dan
ikuti permintaannya selama itu tidak membuat kalian pisah.” Kataku mencoba
menasihati.
“Maksud
kamu apa Nara. Secara tidak langsung, perkataanmu itu memberitahu Diana dan aku
untuk berpisah. Menurutku, pacarnya saja yang bodoh dan terlalu cemburu. Aku
dan Diana sudah bersama semenjak kami melihat dunia.” Begitu sakitnya ucapan
Galang, Diana masih menangis dan Galang terus mengelus punggung Diana.
“Ya,
aku tahu. Bagaiamna kalau kalian bersama saja. Ya kalian jadi pasangan saja,
supaya kalian tidak terpisahkan.?” Hah ucapan apa ini.
“APA”
jawaban mereka berbarengan
“Ya,
apa ada yang salah?”
“Kamu
bodoh atau apa sih Nara, aku mencintai kamu. Aku dan Diana hanya saling
menyayangi seperti saudara. Bagiku, dia sahabat sekaligus saudara. Masa depanku
kamu. Aku kecewa dengan usulmu itu, apa kamu tidak mencintaiku lagi?” tanya
Galang dengan sedikit nada geram. Ahahahah ya aku bodoh, bodoh karena teramat
mencintaimu.
“Ya
Nara, Galang benar. Apa kamu tidak pernah cemburu dengan kedekatan kami? Maaf
ya Nara, tapi aku berani bersumpah. Kami tidak memiliki perasaan apapun selain
rasa sayang pada saudara sendiri.”
Aku
hanya dapat tersenyum dengan ucapan mereka. Mereka mencintai pasangan
masing-masing, tapi tidak bisa menerima akan sebuah kenyataan yang harus mereka
jalani bahwa mereka tidak bisa terus dekat seperti itu. Ada orang lain yang
terluka. Bagiku selama Galang menomor satukan aku di kehidupannya, kedekatan
mereka takkan aku permasalahkan. Tapi kenyataannya, terkadang aku menjadi orang
kedua setelah Diana.
“Baiklah
aku minta maaf. Oh ya Galang, ada yang ingin aku katakan. Ini soal ....”
ucapanku terpotong karena Diana mendadak menangis lagi dan mengatakan magnya
kambuh. Galang begitu khawatir akan keadaan Diana, dia hendak beranjak tapi aku
menahan tangannya. Aku akan mencoba bersikap egois sekarang.
“Lang
kamu mau kemana, tidak bisakah Diana diantar taksi saja. Ada hal penting yang
ingin aku katakan.” Mohonku pada Galang.
“Maksudmu
apa Nara? Hal penting? Apa kamu kira keadaan Diana sekarang tidak penting?”
“Bukan
begitu maksudku. Tapi aku tidak bohong. Ini beneran penting, aku ....”
“Apa
kita hidup di zaman purba Nara, apa kamu melupakan teknologi komunikasi. Ayolah
jangan memperkeruh keadaan. Apa jangan-jangan ... kamu ingin bersikap seperti
PACAR DIANA?” bentaknya padaku
“Sudahlah
Galang, kasian Nara. Kamu gila Lang, kamu membentak orang sebaik Nara? Sudahlah
aku naik taksi saja. Maaf Nara, terkadang dia bodoh.”
“TIDAK.
Aku harap kamu mengerti Nara. Aku tidak mungkin membiarkan saudaraku pulang
sendirian dalam keadaan kacau dan sakit seperti ini. Nanti aku hubungi kamu,
tapi setelah aku memastikan Diana baik-baik saja”
Tuhan
... begitu sakitkah aku mencintai Galang. Inikah balasan untuk sebuah ketulusan
yang ku punya. Tahan Nara, jangan biarkan air matamu menetes.
“Ya,
aku mengerti. Maaf dan jagalah Diana. Ahh iya, kamu tidak perlu menghubungiku.
Mungkin malam ini aku akan sibuk. Cepat sembuh dan semoga ada jalan keluarnya
ya Diana.” Sibuk menangis karnamu.
“Baiklah.
Aku dan Diana pergi dulu. Hati-hati di
jalan.”
...
Aku
pulang ke rumah dalam keadaan kacau. Untung orang tuaku sedang berada di rumah
Nenek. Jadi malam ini, aku akan menangis sepuasnya. Dengan semua kejadian ini,
aku memutuskan untuk menjauhi Galang dulu. Aku mengambil sim card dan
menggantinya. Ini adalah awal aku akan mencoba tanpamu. Selama sebulan aku akan
mencoba tanpamu dan saat aku bertemu dengan kalian di kampus atau di mana pun
itu. Ku harap rasa sakit ini tak muncul lagi.
...
Satu
bulan sudah berlalu dan hari ini aku mulai berkuliah lagi. Hari pertama
sekaligus untuk pertama kali lagi aku akan bertemu dengan mereka. Meskipun di
antara kami tidak ada kata putus, tapi bagiku akan ada yang berbeda di dalam
hubungan ini.
Sengaja
aku memasuki menit-menit terakhir ke kelas. Semua ini untuk menghindari
pertemuanku dengan Galang. Padahal pertemuan itu takkan terelakkan lagi karena
kami satu kelas.
Selama
perkuliahan berlangsung, sengaja aku lebih memilih duduk di meja paling
belakang. Ini semua aku lakukan untuk menghindari kontakku dengan mereka walau
nyatanya Galang terus melirik ke belakang dengan tatapan yang seolah
menghakimiku. Aku lelah, aku lelah menjadi orang yang ada di sampingmu. Aku tak
ingin tersakiti lagi, mengertilah!
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar